DOMLUT
Tahukah pembaca? Drs Ruslan Roy, MM, Ir R. M. Son Son Sundoro,
http://www.eelstheband.com/
, dan telah diolah dari berbagai sumber: Kebutuhan pasar belut
dibeberapa negara asia sebagai tujuan ekspor pada tiap minggunya adalah:
Jepang (1000 ton tiap minggu), Hongkong (350 ton tiap minggu), Cina
(300 ton tiap minggu), Malaysia (80 ton tiap minggu), Taiwan (20 ton
tiap minggu), Korea (10 ton tiap minggu) kemudian Singapura (5 ton tiap
minggu). “Bang, coba manfaatkan lahan yang ada untuk budidaya belut
juga!” demikian saran sang penggagas Villa Domba, masih dalam tahap
persiapan di mana Insya Allah Villa Domba akan mulai menekuni pula
kombinasi antara pertanian, peternakan dan tidak lupa perikanan. Bila
sudah ada cerita sukses tentang Domle alias Domba Lele yang dilakukan
oleh pak Teddy maka kenapa tidak untuk mulai kombinasi Domlut alias
Domba Belut. Salam Pertanian Organik, Peternakan dan Perikanan!
Sumber.
http://giomustbebetter.blogspot.com/2008/12/belut.html,
Budidaya Belut saat ini dirasa sangat menguntungkan mengingat
permintaan dalam dan luar negeri terus meningkat, namun Belut alam yang
hidup bebas sangat sulit ditemukan. Penggunaan pestisida pembahas hama
dilahan pertanian ternyata berdampak menghilangnya sebagian spesies
ikan, termasuk belut. Hal ini sangat memprihatinkan, bila dipandang dari
segi keseimbangan alam. Kelestarian alam merupakan tanggungjawab
bersama penghuni bumi. Budidaya Belut sebenarnya tidak sulit dan juga
tidak mahal. Masyarakat yang memiliki lahan sempitpun dapat memelihara
belut. Secara Teknis Budidaya dan pemeliharaan belut (monopterus albus)
hanya memerlukan perhatian dalam memilih tempat/lokasi budidaya,
pembuatan kolam, media pemeliharaan, memilih benih, perkembangbiakan
belut, penetasan, makanan dan kebiasaan makan serta hama. Disisi lain
kita memerlukan tata cara panen, pasca panen, pemasaran dan pencatatan.
KLIK juga.
http://bisnis-hasan.blogspot.com/2008/12/ternak-belut.html,
Berminat budidaya belut, pada dasarnya modal menurut Ardiyan bukanlah
yang utama. Jika calon pebisnis memiliki kolam semen, atau bahkan jika
tidak ada bisa menggunakan kolam terpal. Sementara untuk bibitnya calon
pebisnis bisa memulai dengan berusaha mendapatkan bibit dari sawah.
Bibit belut bisa lebih mudah didapatkan di sekitar pertanian organik.
Jika tidak bisa didapat dengan cara gratis, sambung Ardiyan, bibit belut
sawah bisa didapat dengan harga sekitar Rp25.000/kg. Jika dibudidayakan
secara intens, bibit belut berukuran sebesar rokok akan membutuhkan
waktu sekitar 3 hingga 6 bulan untuk bisa dipanen untuk kemudian
dipasarkan. Pilihannya ada pada pebisnis sendiri. Jika ingin dipasarkan
secara lokal, biasanya waktu 3, 4 atau 5 bulan cukup untuk budidaya.
Sementara untuk pasar ekspor biasanya akan memakan waktu 6 bulan. Bicara
harga jual juga menarik. Dari hasil panen, Ardiyan bisa mematok harga
sekilo belut isi 10 seharga Rp15.000 untuk pasar lokal, bahkan bisa
mencapai Rp18.000 di enuser. Sementara untuk pasar ekspor biasanya
sekilo isi 10 dengan harga Rp20.000.
Domlut alias Domba Belut? KLIK Kolam Belut Anti Repot,
http://kelapahijau.wordpress.com/2008/04/01/kolam-belut-anti-repot/:
Media fermentasi untuk memelihara belut. Media berupa campuran jerami,
pelepah pisang, kompos, pupuk kandang, dan lumpur itu, dibuat di luar
kolam. Alasannya, proses pematangan media berlangsung lebih cepat.
‘Kalau mematangkan di kolam waktunya bisa lebih dari sebulan. Itu pun
belum tentu semuanya menjadi matang,’ katanya. Media dibuat dengan
mencacah jerami dan pelepah pisang. Cacahan itu lantas dicampur kompos
dan pupuk kandang, lalu disiram konsentrat mengandung mikroorganisme
pengurai sebanyak 50 cc/10 l air. Campuran itu dijemur hingga kering,
kemudian disungkup terpal sekitar 3 pekan.Media yang sudah jadi
ditaburkan setebal 60 cm, selanjutnya ditutupi lumpur setinggi 15 cm.
Tambahkan air pada media hingga mencapai ketinggian 3 cm. Maksudnya agar
media selalu basah sesuai habitat asli belut. KLIK juga Video Youtube
tentang Belut sebagai berikut yang dapat penulis peroleh: